Puluhan Media di Jawa Timur Tanggapi Surat Dewan Pers Tahun 2020

Surabaya - majalahglobal.com : Soal Surat Pendataan Perusahaan Pers, Sebaiknya DP (Dewan Pers) bekerjasama dengan FKPRM (Forum Komunikasi Pemimpin Redaksi Media (FKPRM) Jawa Timur. Kenapa FKPRM ? Karena wadah yang sudah berbadan hukum ini tahu kondisi di lapangan.  Ketua FKPRM Jawa Timur, Agung Santoso, dalam pers releasenya kepada para pemimpin redaksi  media di Jawa Timur yang tergabung dalam FKPRM, menanggapi surat dari Dewan Pers, nomor 800/DP/K/VIII/2030, perihal pendataan perusahaan pers di Indonesia yang ditujukan kepada Kepala Daerah Kab/Kota Cq.Sekretaris Daerah tertanggal 26 Agustus 2020.  ‘’Terima kasih kepada Dewan Pers yang telah melakukan salah satu tupoksinya dengan melakukan pendataan yang selalu ada setiap tahun, sehingga akan diketahui berapa jumlah media yang sudah di data, tapi bukan untuk verifikasi, karena verifikasi baik administrasi dan faktual mempunyai persyaratan yang butuh proses, bukan berat. Berat itu bisa identik tidak bisa, tapi kalau proses, semua pasti bisa menuju apa apa yang diharapkan kita semua," ujarnya.  Pertanyaan kenapa harus kerjasama dengan FKPRM ? Menurut Agung sapaan akrab sosok pria yang pernah menjadi redaktur di media harian Bhirawa di Surabaya ini, mengungkapkan anggota FKPRM semua sudah berbadan hukum, juga ada penanggungjawab redaksi/pemimpin redaksi yang bisa di cek pada medianya, komitmen menjalankan kode etik jurnalistik dan perlindungan, ada kantor, kemudian soal gaji dan asuransi dari perusahaan media ada yang sudah dan ada yang masih dalam proses.   “FKPRM itu bukan sekedar melakukan pendataan tapi juga pembinaan, dan bukan juga sekedar mengeluarkan aturan-aturan yang tanpa melihat kondisi di lapangan, mengeluarkan aturan berlindung dalam sebuah undang-undang kalau tidak tahu kondisi di lapangan, maka sekedar retorika," tegasnya.  Perlu diketahui oleh Dewan Pers, tanggal 25-26 Sepetember 2020, FKPRM menyelenggarakan Rapat Koordinasi Pemimpin Perusahaan dan Redaksi Media di Jawa Timur yang berlangsung di Hotel Nirwana Kabupaten Magetan dengan mengambil tema Peningkatan Mutu Media dan Jurnalis.   Dalam rakor selama dua hari disepakati, pertama Kerjasama dengan dengan Pemda cukup  berbadan hukum PT, tidak perlu verifikasi dewan pers karena merujuk kepada UU Pers.  "Jika ada seseorang yang punya  modal cukup kuat semua persyaratan dipenuhi kecuali satu  yakni pemimpin redaksi harus status wartawan utama, lalu pemilik modal tersebut tidak mau  mencomot tenaga wartawan dari media lain yang sudah punya status wartawan utama, berarti  harus menunggu lima tahun baru bisa terverifikasi, sebab dari muda ke madya dua tahun, dari  madya ke utama tiga tahun, total lima tahun. Berarti selama lima tahun tidak bisa terverifikasi,  padahal semua lengkap, wong punya modal kuat. Hal inilah perlu kajian mendalam sebelum  aturan dikeluarkan,’’ tegas Agung.  Kedua, Diskominfo di daerah diberi kewenangan dengan menyelenggarakan Uji Kemaampuan Jurnalis yang berstandar, tetap mengacu pada  UU Pers dan koordinasi dengan Dewan Pers.   Jadi untuk tim penguji,  Kominfo daerah tidak harus bekerjasama dengan lembaga tim penguji, cukup  bermitra dengan Dewan Pers dengan bekerjasama sama pada para penguji dari berbagai lembaga yang sudah mempunyai sertifikat penguji.   '’Apa yang diragukan lagi, materinya standar, tim pengujinya  bersertifikat," tutupnya. (Ricky/Jayak/Redaksi)
 Agung Santoso (tengah) Foto bersama saat acara Rakor di Magetan

Surabaya - majalahglobal.com : Soal Surat Pendataan Perusahaan Pers, Sebaiknya DP (Dewan Pers) bekerjasama dengan FKPRM (Forum Komunikasi Pemimpin Redaksi Media (FKPRM) Jawa Timur. Kenapa FKPRM ? Karena wadah yang sudah berbadan hukum ini tahu kondisi di lapangan.


Ketua FKPRM Jawa Timur, Agung Santoso, dalam pers releasenya hari ini Senin (28/9/2020) kepada para pemimpin redaksi media di Jawa Timur yang tergabung dalam FKPRM, menanggapi surat dari Dewan Pers, nomor 800/DP/K/VIII/2030, perihal pendataan perusahaan pers di Indonesia yang ditujukan kepada Kepala Daerah Kab/Kota Cq.Sekretaris Daerah tertanggal 26 Agustus 2020.


‘’Terima kasih kepada Dewan Pers yang telah melakukan salah satu tupoksinya dengan melakukan pendataan yang selalu ada setiap tahun, sehingga akan diketahui berapa jumlah media yang sudah di data, tapi bukan untuk verifikasi, karena verifikasi baik administrasi dan faktual mempunyai persyaratan yang butuh proses, bukan berat. Berat itu bisa identik tidak bisa, tapi kalau proses, semua pasti bisa menuju apa apa yang diharapkan kita semua," ujarnya.


Pertanyaannya kenapa harus kerjasama dengan FKPRM ? Menurut Agung sapaan akrab sosok pria yang pernah menjadi redaktur di media harian Bhirawa di Surabaya ini, mengungkapkan anggota FKPRM semua sudah berbadan hukum, juga ada penanggungjawab redaksi/pemimpin redaksi yang bisa di cek pada medianya, komitmen menjalankan kode etik jurnalistik dan perlindungan, ada kantor, kemudian soal gaji dan asuransi dari perusahaan media ada yang sudah dan ada yang masih dalam proses. 


“FKPRM itu bukan sekedar melakukan pendataan tapi juga pembinaan, dan bukan juga sekedar mengeluarkan aturan-aturan yang tanpa melihat kondisi di lapangan, mengeluarkan aturan berlindung dalam sebuah undang-undang kalau tidak tahu kondisi di lapangan, maka sekedar retorika," tegasnya.


Perlu diketahui oleh Dewan Pers, tanggal 25-26 Sepetember 2020, FKPRM menyelenggarakan Rapat Koordinasi Pemimpin Perusahaan dan Redaksi Media di Jawa Timur yang berlangsung di Hotel Nirwana Kabupaten Magetan dengan mengambil tema Peningkatan Mutu Media dan Jurnalis. 


Dalam rakor selama dua hari disepakati, pertama Kerjasama dengan dengan Pemda cukup berbadan hukum PT, tidak perlu verifikasi dewan pers karena merujuk kepada UU Pers.


"Jika ada seseorang yang punya modal cukup kuat semua persyaratan dipenuhi kecuali satu yakni pemimpin redaksi harus status wartawan utama, lalu pemilik modal tersebut tidak mau mencomot tenaga wartawan dari media lain yang sudah punya status wartawan utama, berarti harus menunggu lima tahun baru bisa terverifikasi, sebab dari muda ke madya dua tahun, dari madya ke utama tiga tahun, total lima tahun. Berarti selama lima tahun tidak bisa terverifikasi, padahal semua lengkap, wong punya modal kuat. Hal inilah perlu kajian mendalam sebelum aturan dikeluarkan,’’ tegas Agung.


Kedua, Diskominfo di daerah diberi kewenangan dengan menyelenggarakan Uji Kemaampuan Jurnalis yang berstandar, tetap mengacu pada UU Pers dan koordinasi dengan Dewan Pers. 


Jadi untuk tim penguji, Kominfo daerah tidak harus bekerjasama dengan lembaga tim penguji, cukup bermitra dengan Dewan Pers dengan bekerjasama sama pada para penguji dari berbagai lembaga yang sudah mempunyai sertifikat penguji. 


'’Apa yang diragukan lagi, materinya standar, tim pengujinya bersertifikat," tutupnya. (Ricky/Jayak/Redaksi)

Malang
Ponorogo

 







Atas