Melihat lebih Dekat Masjid Almansuriyah Tengger

Sejak Desember tahun 2013, PonPes K'homsani Nur telah mengirimkan Ustadz Siswanto, untuk berdakwah pada daerah Tengger Probolinggo.Tepatnya di Dusun Punjul, Desa Gemito, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.   Ustadz Sis, panggilan akrabnya membawa pesan dari Pengasuh Pondok, untuk menjaga sikap dan selalu ramah pada masyarakat sekitar.  Setiap hari Ustadz Sis, yang merupakan asli kota Blitar ini, bekerja sebagai buruh tani dengan upah 50 ribu per hari. Ini juga merupakan perwujudan pesan dari Pengasuh, untuk hidup mandiri dan tidak merepotkan orang lain.   Tantangan yang dialami oleh ustadz Sis tidaklah mudah, karena pemahaman terhadap Islam masih rendah.Sehingga membutuhkan kesabaran dan keuletan untuk membimbing warga disana.  Seiring dengan waktu, masyarakat bisa menerimanya dengan baik.Terbukti pada 2017, Ustadz Sis menikah dengan gadis desa bernama Rinata.Yang mana mulanya ia beragama hindu, Alhamdulillah semenjak menikah memutuskan mualaf dan mendampingi perjuangan suaminya sampai dengan saat ini.  Pada bulan februari 2018, Ustadz Sis memperoleh sebidang tanah dari Pak Sa dan Kampung Sir, untuk pembangunan masjid. Hal ini mendapat perhatian penuh dari Agung Priyo selaku Kepala Desa, yang mengerahkan warga untuk berpartisipasi dalam pembangunan.   Warga pun sepakat menamai masjid tersebut dengan Nama Masjid Almansuriyah. Dan kini Masyarakat sudah menggunakan Masjid tersebut, untuk Sholat lima waktu dan kegiatan ibadah yang lainnya.  Adapun kegiatan mengaji  bagi anak anak setiap bada maghrib dan pengajian warga rutin setiap malam jumat.   Ayoeb Taufani Zaman. Ponpes Khomsani Nur.
Melihat lebih Dekat Masjid Almansuriyah Tengger


Sejak Desember tahun 2013, PonPes K'homsani Nur telah mengirimkan Ustadz Siswanto, untuk berdakwah pada daerah Tengger Probolinggo.Tepatnya di Dusun Punjul, Desa Gemito, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

 

Ustadz Sis, panggilan akrabnya membawa pesan dari Pengasuh Pondok, untuk menjaga sikap dan selalu ramah pada masyarakat sekitar.


Setiap hari Ustadz Sis, yang merupakan asli kota Blitar ini, bekerja sebagai buruh tani dengan upah 50 ribu per hari. Ini juga merupakan perwujudan pesan dari Pengasuh, untuk hidup mandiri dan tidak merepotkan orang lain. 


Tantangan yang dialami oleh ustadz Sis tidaklah mudah, karena pemahaman terhadap Islam masih rendah.Sehingga membutuhkan kesabaran dan keuletan untuk membimbing warga disana.


Seiring dengan waktu, masyarakat bisa menerimanya dengan baik.Terbukti pada 2017, Ustadz Sis menikah dengan gadis desa bernama Rinata.Yang mana mulanya ia beragama hindu, Alhamdulillah semenjak menikah memutuskan mualaf dan mendampingi perjuangan suaminya sampai dengan saat ini.


Pada bulan februari 2018, Ustadz Sis memperoleh sebidang tanah dari Pak Sa dan Kampung Sir, untuk pembangunan masjid. Hal ini mendapat perhatian penuh dari Agung Priyo selaku Kepala Desa, yang mengerahkan warga untuk berpartisipasi dalam pembangunan. 


Warga pun sepakat menamai masjid tersebut dengan Nama Masjid Almansuriyah.

Dan kini Masyarakat sudah menggunakan Masjid tersebut, untuk Sholat lima waktu dan kegiatan ibadah yang lainnya. 

Adapun kegiatan mengaji bagi anak anak setiap bada maghrib dan pengajian warga rutin setiap malam jumat. 


Ayoeb Taufani Zaman.

Ponpes Khomsani Nur.

Malang
Ponorogo

 







Atas