Bambang Bersyukur Semua Pengobatannya pakai JKN-KIS

Mojokerto - majalahglobal.com : Bambang Dwiwinarno (44), Peserta Penerima Bantuan Iuran PBI melalui pendanaan daerah (APBD), sudah merasakan manfaat bantuan kesehatan dari pemerintah mulai dari Jamkesda kota Mojokerto hingga JKN-KIS segmen PBI APBD seperti sekarang. Selama mendapatkan bantuan pemerintah tersebut, ia penah mengalami beberapa kondisi sakit mulai dari TBC, Diabetes, Cuci darah hingga amputasi, semuanya diobati dengan pelayanan yang optimal dengan Jaminan Kesehatan Nasional  “Dari masih Jamkesda sampai sekarang JKN-KIS PBI APBD, selama kurun waktu tersebut suami saya mengalami sakit dan pengobatannya ditanggung sepenuhnya,” tutur istri dari Bambang, Erni.  Erni menerangkan jika di tahun 2011-2012 suaminya didiagnosis TBC dan Diabetes serta mendapat pengobatan di salah satu Puskesmas di wilayah Mojokerto, kemudian tahun 2016 terkena luka bakar di kedua kakinya sehingga diobati dan rawat inap di dua Rumah Sakit, Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto dan Rumah Sakit Reksa Waluya. Dikarenakan ada luka yang menyebar ke jaringan lain dan mengalami mual muntah yang disebabkan kreatin yang tinggi akhirnya suaminya di rujuk ke Rumah Sakit Gatoel untuk dilakukan cuci darah.  “Suami saya terpaksa melakukan cuci darah 2x seminggu di RS Gatoel, dan alhamdulillah selama kurun waktu sakit berkat JKN-KIS suami saya mendapatkan pelayanan pengobatan sesuai yang dibutuhkan,” jelasnya  Ia menceritakan Selang beberapa kali cuci darah, tepat di tahun 2019 luka di kaki pria yang berdomisili di Kedungkwali Mojokerto ini tidak kunjung sembuh, akhirnya di rontgen dan dari hasilnya ternyata tulang di dalam kaki kanan hancur sehingga harus diamputasi. Erni sempat merasa sedih karena pasti membutuhkan biaya yang besar.  “Bersyukur sekali dengan adanya JKN-KIS, meskipun status kepesertaan suami saya PBI dari pemerintah, mulai pengobatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) kami tidak pernah mengeluarkan biaya sama sekali, semuanya gratis,” ungkapnya.  Erni juga menyampaikan pesannya kepada masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS, agar segera mendaftarkan diri dan keluarganya, karena penyakit bisa datang tanpa diduga sebelumnya.  “Segera miliki JKN-KIS mumpung masih sehat, kalau sudah sakit dan tidak punya jaminan kesehatan akan repot karena biaya kesehatan terbilang mahal, penyakit itu datangnya tidak kulo nuwun (permisi dulu),“ tutur erni  Diakhir, Erni berharap semoga JKN-KIS tetap mempertahankan pelayanan yang optimal dan memudahkan prosedur pelayanan bagi pesertanya.  “Terlebih untuk pasien cuci darah agar tetap mendapatkan pelayanan hemodialisa (cuci darah) secara gratis karena biaya untuk sekali cuci darah sangatlah mahal dan tidak terjangkau untuk kami yang tidak mampu,“ tutupnya. (Jayak)
Bambang Bersyukur Semua Pengobatannya pakai JKN-KIS
Mojokerto - majalahglobal.com : Bambang Dwiwinarno (44), Peserta Penerima Bantuan Iuran PBI melalui pendanaan daerah (APBD), sudah merasakan manfaat bantuan kesehatan dari pemerintah mulai dari Jamkesda kota Mojokerto hingga JKN-KIS segmen PBI APBD seperti sekarang. Selama mendapatkan bantuan pemerintah tersebut, ia penah mengalami beberapa kondisi sakit mulai dari TBC, Diabetes, Cuci darah hingga amputasi, semuanya diobati dengan pelayanan yang optimal dengan Jaminan Kesehatan Nasional

“Dari masih Jamkesda sampai sekarang JKN-KIS PBI APBD, selama kurun waktu tersebut suami saya mengalami sakit dan pengobatannya ditanggung sepenuhnya,” tutur istri dari Bambang, Erni.

Erni menerangkan jika di tahun 2011-2012 suaminya didiagnosis TBC dan Diabetes serta mendapat pengobatan di salah satu Puskesmas di wilayah Mojokerto, kemudian tahun 2016 terkena luka bakar di kedua kakinya sehingga diobati dan rawat inap di dua Rumah Sakit, Rumah Sakit Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto dan Rumah Sakit Reksa Waluya. Dikarenakan ada luka yang menyebar ke jaringan lain dan mengalami mual muntah yang disebabkan kreatin yang tinggi akhirnya suaminya di rujuk ke Rumah Sakit Gatoel untuk dilakukan cuci darah.

“Suami saya terpaksa melakukan cuci darah 2x seminggu di RS Gatoel, dan alhamdulillah selama kurun waktu sakit berkat JKN-KIS suami saya mendapatkan pelayanan pengobatan sesuai yang dibutuhkan,” jelasnya

Ia menceritakan Selang beberapa kali cuci darah, tepat di tahun 2019 luka di kaki pria yang berdomisili di Kedungkwali Mojokerto ini tidak kunjung sembuh, akhirnya di rontgen dan dari hasilnya ternyata tulang di dalam kaki kanan hancur sehingga harus diamputasi. Erni sempat merasa sedih karena pasti membutuhkan biaya yang besar.

“Bersyukur sekali dengan adanya JKN-KIS, meskipun status kepesertaan suami saya PBI dari pemerintah, mulai pengobatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) kami tidak pernah mengeluarkan biaya sama sekali, semuanya gratis,” ungkapnya.

Erni juga menyampaikan pesannya kepada masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS, agar segera mendaftarkan diri dan keluarganya, karena penyakit bisa datang tanpa diduga sebelumnya.

“Segera miliki JKN-KIS mumpung masih sehat, kalau sudah sakit dan tidak punya jaminan kesehatan akan repot karena biaya kesehatan terbilang mahal, penyakit itu datangnya tidak kulo nuwun (permisi dulu),“ tutur erni

Diakhir, Erni berharap semoga JKN-KIS tetap mempertahankan pelayanan yang optimal dan memudahkan prosedur pelayanan bagi pesertanya.

“Terlebih untuk pasien cuci darah agar tetap mendapatkan pelayanan hemodialisa (cuci darah) secara gratis karena biaya untuk sekali cuci darah sangatlah mahal dan tidak terjangkau untuk kami yang tidak mampu,“ tutupnya. (Jayak)
Malang
Ponorogo

 







Atas