RUNNING NEWS :
Loading...

Inilah 3 Manfaat Air Petirtaan Jolotundo

Mojokerto - majalahglobal.com : Kepercayaan tentang khasiat air petirtaan Jolotundo biasanya didapatkan dari informasi masyarakat dan kabar turun temurun dari nenek moyang. Ada yang beranggapan bahwa air Jolotundo bisa menyembuhkan penyakit, membuat lebih enak rasa minuman yang kita buat jika memakai air Jolotundo dan ada juga yang beranggapan air Jolotundo membuat awet muda.  Sama halnya dengan Achmad Mardianto. Ia sengaja mengisi penuh empat jeriken air miliknya dengan air Jolotundo meski harus bergantian dengan pengunjung yang lain.  "Air jolotundo ini saya pakai untuk minuman kopi di usaha Angkringan saya di stand Terminal Kertajaya No.46 Kabupaten Mojokerto. Biar rasa kopi nya mempunyai ciri khas tersendiri dan mempunyai nilai harga yang lebih," kata Warga Jalan Muria, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Sabtu (18/7/2020) di Petirtaan Jolotundo, Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.  Tidak hanya Achmad Mardianto saja yang memanfaatkan air dari Jolotundo sore itu. Ratusan pengunjung terlihat juga bergentian menadahkan botol atau tempat air lainnya dari dua pipa kecil di candi Jolotundo.  Sebagian mereka juga menaruh sesaji dan membakar dupa tepat di samping kolam pemandian. Ritual itu dilakukan untuk maksud tujuan tertentu. Aroma menyengat dupa seakan menambah suasana mistis di sekitar kolam.  Pengunjung anak-anak nampak bermain air di kolam besar pemandian yang berisi banyak ikan. Sementara di bagian atas kolam ada kolam berukuran kecil yang kedalamannya 1,5 meter. Biasanya digunakan pengunjung dewasa untuk berendam secara bergantian.  Petirtaan Jolotundo merupakan bangunan petirtaan peninggalan Raja Udayana dari Bali, diperuntukan bagi Raja Airlangga, puteranya, setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan.  Secara geografis Petirtaan Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut tepatnya di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan, gunung suci bagi umat Hindu aliran Siwa.  Dari gunung, air dialirkan melalui jaringan bawah tanah menuju Petirtaan Jolotundo. Air menjadi salah satu bagian penting dalam ritual masyarakat saat itu, apalagi bersumber dari gunung yang dianggap suci.  Petirtaan Jolotundo memiliki sendang atau tempat air berdindingkan batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2x2 meter menghadap ke Barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur.  Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan di bawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6x8 yang dipenuhi banyak ikan.  Koordinator Unit Petirtaan Jolotundo, Bima Yoga Brilliansyah mengatakan pada saat jumat legi, selasa kliwon, malam bulan purnama dan malam 1 suro merupakan Puncaknya pengunjung ke Petirtaan Jolotundo untuk melakukan ritual-ritual dengan maksud dan tujuan tertentu.  "Alhamdulillah pada tanggal 4 Juli 2020 kemarin Jolotundo sudah mulai dibuka kembali setelah lama tutup akibat covid-19. Biasanya pada saat Jumat legi, ada 1000 sampai 2000 pengunjung pada saat sebelum covid-19. Kalau prediksi kami ya bakal ada penurunan yang cukup besar karena belum stabilnya keadaan sekarang akibat pandemi Covid-19. Semoga keadaan ini cepat kembali normal agar wisata Jolotundo maupun wisata lainnya bisa memberikan PAD yang besar untuk Pemerintah Kabupaten Mojokerto," ujar Bima. (Jayak)
Inilah 3 Manfaat Air Petirtaan Jolotundo
Mojokerto - majalahglobal.com : Kepercayaan tentang khasiat air petirtaan Jolotundo biasanya didapatkan dari informasi masyarakat dan kabar turun temurun dari nenek moyang. Ada yang beranggapan bahwa air Jolotundo bisa menyembuhkan penyakit, membuat lebih enak rasa minuman yang kita buat jika memakai air Jolotundo dan ada juga yang beranggapan air Jolotundo membuat awet muda.
Achmad Mardianto saat mengambil air Jolotundo
Sama halnya dengan Achmad Mardianto. Ia sengaja mengisi penuh empat jeriken air miliknya dengan air Jolotundo meski harus bergantian dengan pengunjung yang lain.

"Air jolotundo ini saya pakai untuk minuman kopi di usaha Angkringan saya di stand Terminal Kertajaya No.46 Kota Mojokerto. Biar rasa kopi nya mempunyai ciri khas tersendiri dan mempunyai nilai harga yang lebih," kata Warga Jalan Muria, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Sabtu (18/7/2020) di Petirtaan Jolotundo, Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Tidak hanya Achmad Mardianto saja yang memanfaatkan air dari Jolotundo sore itu. Ratusan pengunjung terlihat juga bergantian menadahkan botol atau tempat air lainnya dari dua pipa kecil di candi Jolotundo.

Sebagian mereka juga menaruh sesaji dan membakar dupa tepat di samping kolam pemandian. Ritual itu dilakukan untuk maksud tujuan tertentu. Aroma menyengat dupa seakan menambah suasana mistis di sekitar kolam.

Pengunjung anak-anak nampak bermain air di kolam besar pemandian yang berisi banyak ikan. Sementara di bagian atas kolam ada kolam berukuran kecil yang kedalamannya 1,5 meter. Biasanya digunakan pengunjung dewasa untuk berendam secara bergantian.

Petirtaan Jolotundo merupakan bangunan petirtaan peninggalan Raja Udayana dari Bali, diperuntukan bagi Raja Airlangga, puteranya, setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan.

Secara geografis Petirtaan Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut tepatnya di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan, gunung suci bagi umat Hindu aliran Siwa.

Dari gunung, air dialirkan melalui jaringan bawah tanah menuju Petirtaan Jolotundo. Air menjadi salah satu bagian penting dalam ritual masyarakat saat itu, apalagi bersumber dari gunung yang dianggap suci.

Petirtaan Jolotundo memiliki sendang atau tempat air berdindingkan batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2x2 meter menghadap ke Barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur.

Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan di bawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6x8 yang dipenuhi banyak ikan.

Koordinator Unit Petirtaan Jolotundo, Bima Yoga Brilliansyah mengatakan pada saat jumat legi, selasa kliwon, malam bulan purnama dan malam 1 suro merupakan Puncaknya pengunjung ke Petirtaan Jolotundo untuk melakukan ritual-ritual dengan maksud dan tujuan tertentu.

"Alhamdulillah pada tanggal 4 Juli 2020 kemarin Jolotundo sudah mulai dibuka kembali setelah lama tutup akibat covid-19. Biasanya pada saat Jumat legi, ada 1000 sampai 2000 pengunjung pada saat sebelum covid-19. Kalau prediksi kami ya bakal ada penurunan yang cukup besar karena belum stabilnya keadaan sekarang akibat pandemi Covid-19. Semoga keadaan ini cepat kembali normal agar wisata Jolotundo maupun wisata lainnya bisa memberikan PAD yang besar untuk Pemerintah Kabupaten Mojokerto," ujar Bima. (Jayak) 
Malang
Ponorogo

 
Atas