Anak Pengidap Epilepsi ini Sangat Berterima Kasih pada BPJS Kesehatan

Mojokerto - Sejak berumur 9 bulan Dimas Hadi Wibowo warga Dusun Pacet Made Mojokerto ini sering mengalami kejang yang berlebihan dan pertumbuhannya yang lambat. Karena merasa ada yang janggal dengan kondisi dan pertumbuhan anaknya, ibu dari Dimas (Chotiami) memutuskan untuk membawa ke dokter spesialis anak, dokter kemudian menyarankan untuk konsul ke dokter spesialis tulang dan saraf yang ada di Mojokerto.  Dari hasil indikasi dokter, terdapat saraf motorik yang mengalami gangguan dan untuk mengetahui lebih detailnya, Chotiami diminta membawa Dimas untuk konsul dengan dokter senior spesialis syaraf di Surabaya tepatnya di Rumah Sakit Dr. Soetomo. Setelah melakukan konsultasi dengan 5 dokter spesialis, akhirnya Dimas disarankan untuk melakukan EEG, CT SCAN, MRI sekaligus. Dari hasil ketiganya Dimas dinyatakan mengidap penyakit saraf motorik dan epilepsi. Pengobatan Dimas kemudian memanfaatkan program Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sejak tahun 2014.  “Hati saya merasa sedih sekali, tidak menyangka dengan vonis dokter mengenai kondisi anak saya, butuh banyak biaya untuk terus kontrol, menebus obat dan terapi,” kata Chotiami.  Tahun 2014 Dimas didaftarkan oleh saudaranya menjadi peserta JKN –KIS atau BPJS Kesehatan sebagai Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas Dua (2).  “Beruntung sekali anak saya punya JKN-KIS, selama pengobatan anak saya,  saya tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun, pelayanannya juga baik," pungkas Chotiami.  Chotiami mengatakan meskipun ia harus berkali kali ke Puskesmas untuk mendapatkan rujukan dan harus ke Rumah Sakit untuk kontrol dan mendapatkan obat, itu ia lakukan agar pengobatan anaknya tidak pernah terhenti. Dan itu membuat ia puas karena adanya JKN-KIS sangat meringankan bebannya dan begitu besar manfaatnya.  “Untuk mendapatkan obat dan terapi yang berulang ulang dan tidak boleh terhenti buat Dimas, saya merasa sudah tidak ada biaya lagi, bersyukur ada JKN-KIS bisa menanggung semuanya," tutur Chotiami.  Chotiami menuturkan saat ini tidak perlu jauh-jauh untuk kontrol di surabaya dengan JKN KIS sudah dipermudah dengan rujukan berjenjang yang dekat dengan rumah, terdapat pelayanan di FKTP Puskesmas Pacet dan FKRTL di RS Sumberglagah.  “Anak saya sekarang berusia (Dua Belas) 12 tahun kondisinya sampai sekarang ini masih belum bisa berjalan dan berbicara, akan tetapi beruntung sekali sampai saat ini melakukan kontrol dan pengobatan secara rutin dengan menggunakan JKN-KIS, “ungkapnya.  Terkait adanya penyesuaian iuran JKN-KIS, keluarga yang bermata pencaharian sebagai petani ini tidak mempermasalahkan. Menurut Chotiami, untuk kesembuhan dan pengobatan anak apapun dilakukan, hal ini dirasakan ketika anak belum ikut serta program JKN-KIS sehingga harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.  “Uang bisa dicari. Kesehatan anak nomer satu meskipun ada penyesuaian iuran saya tidak keberatan, JKN-KIS sangat membantu," tutupnya. (Jayak)
Anak Pengidap Epilepsi ini Sangat Berterima Kasih pada BPJS Kesehatan
Mojokerto - Sejak berumur 9 bulan Dimas Hadi Wibowo warga Dusun Pacet Made Mojokerto ini sering mengalami kejang yang berlebihan dan pertumbuhannya yang lambat. Karena merasa ada yang janggal dengan kondisi dan pertumbuhan anaknya, ibu dari Dimas (Chotiami) memutuskan untuk membawa ke dokter spesialis anak, dokter kemudian menyarankan untuk konsul ke dokter spesialis tulang dan saraf yang ada di Mojokerto.

Dari hasil indikasi dokter, terdapat saraf motorik yang mengalami gangguan dan untuk mengetahui lebih detailnya, Chotiami diminta membawa Dimas untuk konsul dengan dokter senior spesialis syaraf di Surabaya tepatnya di Rumah Sakit Dr. Soetomo. Setelah melakukan konsultasi dengan 5 dokter spesialis, akhirnya Dimas disarankan untuk melakukan EEG, CT SCAN, MRI sekaligus. Dari hasil ketiganya Dimas dinyatakan mengidap penyakit saraf motorik dan epilepsi. Pengobatan Dimas kemudian memanfaatkan program Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sejak tahun 2014.

“Hati saya merasa sedih sekali, tidak menyangka dengan vonis dokter mengenai kondisi anak saya, butuh banyak biaya untuk terus kontrol, menebus obat dan terapi,” ujar Chotiami.

Tahun 2014 Dimas didaftarkan oleh saudaranya menjadi peserta JKN –KIS atau BPJS Kesehatan sebagai Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas Dua (2).

“Beruntung sekali anak saya punya JKN-KIS, selama pengobatan anak saya,  saya tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun, pelayanannya juga baik," tutur Chotiami.

Chotiami mengatakan meskipun ia harus berkali kali ke Puskesmas untuk mendapatkan rujukan dan harus ke Rumah Sakit untuk kontrol dan mendapatkan obat, itu ia lakukan agar pengobatan anaknya tidak pernah terhenti. Dan itu membuat ia puas karena adanya JKN-KIS sangat meringankan bebannya dan begitu besar manfaatnya.

“Untuk mendapatkan obat dan terapi yang berulang ulang dan tidak boleh terhenti buat Dimas, saya merasa sudah tidak ada biaya lagi, bersyukur ada JKN-KIS bisa menanggung semuanya," pungkas Chotiami.

Chotiami menuturkan saat ini tidak perlu jauh-jauh untuk kontrol di surabaya dengan JKN KIS sudah dipermudah dengan rujukan berjenjang yang dekat dengan rumah, terdapat pelayanan di FKTP Puskesmas Pacet dan FKRTL di RS Sumberglagah.

“Anak saya sekarang berusia (Dua Belas) 12 tahun kondisinya sampai sekarang ini masih belum bisa berjalan dan berbicara, akan tetapi beruntung sekali sampai saat ini melakukan kontrol dan pengobatan secara rutin dengan menggunakan JKN-KIS," jelasnya.

Terkait adanya penyesuaian iuran JKN-KIS, keluarga yang bermata pencaharian sebagai petani ini tidak mempermasalahkan. Menurut Chotiami, untuk kesembuhan dan pengobatan anak apapun dilakukan, hal ini dirasakan ketika anak belum ikut serta program JKN-KIS sehingga harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.

“Uang bisa dicari. Kesehatan anak nomer satu meskipun ada penyesuaian iuran saya tidak keberatan, JKN-KIS sangat membantu," tutupnya. (Jayak)
Malang
Ponorogo

 







Atas