7 Juta Pil Double L Berhasil Disita Polisi

7 Juta Pil Double L Berhasil Disita Polisi
Surabaya - majalahglobal.com : olrestabes Surabaya menangkap 10 tersangka dalam kasus pengedaran pil koplo. Dari tangan mereka, polisi mengamankan tujuh juta pil koplo.

Para tersangka yakni Virgiawan (26) sebagai bandar, Fandi (28), Budiyono (44), Hendry (30) dan Christin (59). Kemudian Johanis (39), Akhmad Syaiful (24), Gugik (31), M Nur (25) dan Diki (24).

Mereka ditangkap di tiga lokasi berbeda. Yaitu Surabaya, Kediri dan Blora, Jawa Tengah pada Februari lalu. Kapolrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho mengatakan, pengungkapan peredaran pil koplo jenis double L ini berdasarkan laporan dan pengembangan dari tangkapan sebelumnya.

"Dari hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik (Satresnarkoba) pada bulan Februari sampai dengan saat ini, maka bisa diungkap dengan jumlah yang cukup fantastis," ujar Sandi kepada awak media di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (11/3/2020).

Sandi membeberkan bahwa, pengungkapan diawali dari informasi masyarakat di warung-warung kopi dan di tempat kumpul anak-anak muda. Di situ, polisi menemukan istilah untuk memesan pil koplo, yakni grasak.

"Didengar istilah yang namanya grasak. Begitu kita dalami ternyata pil koplo (double l), selanjutnya kita dalami lagi sampai ke beberapa kota di Jawa Timur ini, Surabaya, Kediri dan Malang ditemukan jumlah yang signifikan untuk dijual di Surabaya. Data terakhir yang kita temukan ada 7 juta butir yang bisa kita ungkap," kata Sandi.

Yang pertama tertangkap yakni tersangka Virgiawan (26) di kawasan Rangkah, Surabaya. Di dalam rumah yang dijadikan gudang, polisi mengamankan 3,5 juta butir. Kemudian Satresnarkoba Polrestabes Surabaya melakukan pengembangan ke Kediri dan menemukan 2,5 juta butir. Selanjutnya polisi mengamankan satu juta butir di Surabaya yang dikirim dari tersangka yang diamankan di Blora, Jawa Tengah.

"Kami juga mengungkap sampai ke Bandung untuk mencari pabrik dari jaringan itu. Tapi kami berkoordinasi juga dengan Badan Narkotika Nasional dan sudah diungkap oleh BNN. Yang lebih menyakitkan lagi bahwa dikonsumsi oleh anak-anak muda dan pelajar yang notabene menjadi tumpuan harapan orang tua dan generasi penerus bangsa," jelas Sandi. (Jayak/Ricky)

Malang
Ponorogo

 







Atas