300 Driver Go-Car Mogok Massal, Demo & Ancam Tutup Kantor Gojek

Mojokerto - majalahglobal.com : 300 driver online di Mojokerto yang tergabung dalam Driver Online Mojokerto (DOM) menggelar aksi di kantor GO-JEK Mojokerto di Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Mereka menuntut hak terkait bonus.

Ratusan DOM mendatangi kantor GO-JEK tepat di depan Terminal Kertajaya Kota Mojokerto. 300 mobil milik para driver online di parkir di halaman terminal terbesar di Kota Mojokerto, sementara para driver online langsung menggelar aksi di depan kantor GO-JEK Mojokerto.

Dalam orasinya, lebih dari 300 driver online tidak bekerja karena hak para driver online diambil Rp200 ribu per hari. Sehingga aksi tersebut dilakukan oleh ratusan driver online ke kantor GO-JEK Mojokerto untuk meminta keadilan dan kesejahteraan para driver online.

Sebanyak 10 orang perwakilan driver online diterima manajemen GO-JEK Mojokerto. Sementara ratusan driver online yang ikut dalam aksi tersebut masih melakukan sholat jenazah di depan kantor GO-JEK Mojokerto sembari menunggu hasil pertemuan perwakilan dengan manajemen GO-JEK Mojokerto.

Setelah Tidak ada hasil pertemuan antara perwakilan driver online di Mojokerto yang tergabung dalam Driver Online Mojokerto (DOM) dengan manajemen GO-JEK Indonesia Cabang Mojokerto. Alhasil, ratusan driver online langsung menuju kantor DPRD Kabupaten Mojokerto.

Dengan kawalan petugas kepolisian, 300 driver online dengan membawa mobil berjalan beriringan ke kantor DPRD Kabupaten Mojokerto di Jalan Veteran Kota Mojokerto. Mereka akan menyampaikan tuntutannya terkait turunnya insentif yang diterima driver online.

Perwakilan driver online, Muhammad Fahmi mengatakan, aksi di kantor GO-JEK Mojokerto dilakukan untuk menuntut insentif yang turun dari Rp260 ribu menjadi Rp65 ribu.

“Padahal, sepeda motor Rp80 ribu insentifnya. Kita menuntut harga driver per rit nya ada kenaikan yang jelas,” pungkasnya, Selasa (26/11/2019).

Masih kata Fahmi, beberapa driver yang akunnya kena Putus Mitra (PM) lantaran menggerakkan driver online lainnya untuk melakukan aksi. Para driver online berharap agar manajemen GO-JEK Mojokerto mengembalikan akun para driver online tersebut secepatnya.

“Untuk wilayah Mojokerto, kami minta untuk mengembalikan insentif driver online Mojokerto, kalau tidak dengan berat hati kami akan menutup kantor GO-JEK Mojokerto. Setidaknya aksi ini didengar oleh seluruh elemen kantor GO-JEK tingkat kabupaten, provinsi dan pusat. Saya harap Bapak Nadiem (owner GO-JEK) untuk memahami hal ini,” harapnya.

Fahmi menambahkan, Mojokerto saat ini mengalami goncangan di driver online. Seluruh driver online mematikan layanan (off bid) dan siapapun yang menghidupkan layanan (on bid) menjadi musuh bersama. Konflik tersebut sudah berlangsung 10 hari sejak driver online mogok.

“Konflik horizontal, internal ini mohon segera dicarikan solusi dengan cara mengembalikan insentif. Insentif sebesar Rp65 ribu, sama sekali tidak cukup, bensin sehari saja minimal Rp100 ribu. Belum makan, ngopi, rokok, untuk keluarga. Ada yang sudah punya anak 3, 4, 5. Belum lagi tunggakan mobil,” tegasnya.

Insentif sebesar Rp65 ribu tersebut, lanjut Fahmi, tidak bisa menutupi kebutuhan seluruh driver di Mojokerto. Driver online meminta agar kantor GO-JEK Mojokerto harus ditutup, disegel dan tidak boleh operasional lagi jika tuntutan driver online tidak dipenuhi.

“Sebelumnya GO-JEK memberikan janji insentif minimal Rp400 ribu, turun menjadi Rp300 ribu, kemudian turun lagi Rp260 ribu. Kami menyetujui yang penting bisa mencukupi kebutuhan dan membayar cicilan mobil. Sebenarnya Rp260 ribu itu bersihnya hanya Rp180 ribu,” katanya.

Dalam satu hari 17 rit atau 17 kali mengantarkan penumpang, jelas Fahmi, hanya berlaku tidak lama dan sekitar dua minggu lalu insentif kembali turun menjadi Rp65 ribu. Menurutnya, negosiasi sudah dilakukan minggu lalu sehingga aksi tersebut hanya menunggu keputusan.

“Hari ini final tapi ternyata finalnya tidak memberikan keputusan apapun. Sehingga kita ke DPRD Kabupaten Mojokerto terkait tuntutan dan ada keputusan dari kantor GO-JEK Mojokerto. Go ride juga mengeluh Rp80 ribu dari 30 rit, itu juga sangat tidak rasional tapi diam saja,” pungkasnya.

Fahmi menjelaskan, 17 rit dalam satu hari dengan minimal 2 km. Jika tidak dapat 17 rit per hari maka driver online tidak mendapatkan insentif. Dari Rp14 ribu, dipotong kantor GO-JEK Mojokerto sebesar Rp4.400 sehingga driver online hanya menerima Rp9.600. Dalam sehari rata-rata driver online menerima Rp150 ribu.

“Dari aksi ini, yang aktif menggerakkan massa di PM tanpa keterangan jelas. Biasanya kesalahan kita, kena PM tapi tidak melakukan kesalahan di PM. Tuntutan kita, samakan dengan yang lain (Grab), wilayah luas (5 kota) tapi 12 rit bisa dikasih bonus Rp115 ribu. Sedangkan kita, wilayahnya hanya Mojokerto saja,” kecewanya. (Jayak)
Malang
Ponorogo

 







Atas